TAWASUL FULL
TAWASUL AHLI KUBUR/ ZIARAH KUBUR
Assalamu'alaikum...
Wa'alaikumussalam waalaikum salam warohmatulohi wabarakatuh,
🤲 Assalamu'alaikum ya Rosulullah...,
Assalamu'alaikum ya habibawlloh...,
Assalamu'alaikum ya 'autadu...,
Assalamu'alaikum ya ulamau...,
Assalamu'alaikum ya Rizalul goib..., Assalamu'alaikum ya Goib..., Assalamu'alaikum ya Bathin..., Assalamu'alaikum, ya wal auliya'i, 'ainuna, biquwwatin, aghitsuna, biqodoina, hajati, wamaqosidana, fiddini, wad dunia, wal akhiroh..., Al-fatihah...
**سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللّٰهِ الْعَظِيمِ**
👉 Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung.
Subhanallahi Walhamdulillah Walaillaha Ilwlloh Hu Awllohu Akbar..., Walahaula Wala Quwata Ilabillah Hil Ali Yul Adzhiim...,
=======================================
Allahumma shalli ala Habibika Sayyidina Muhammad, Allahumma shalli alayhi wa sallim.(Jamaah Mengikuti)
Allahumma shalli ala habibika sayyidina Muhammadiw Waala alihi Washobihi Wabarik Wassalim. (Jamaah Mengikuti)
Ajma'īn" (أَجْمَعِينَ)
👉 Kesemuanya" atau "seluruhnya".
SEKILAS TENTANG TAWASUL
Tawassul sebagai kebiasaan utama dalam berdoa memiliki peranan penting dalam diterimanya doa.
- Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung. (QS. 5:35)
Beberapa komentator klasik, termasuk para ahli tafsir sufi besar , seperti al-Qushayri (w. 465/1074) menjelaskan penggunaan al-wasilah dalam ayat ini berarti menghindari apa yang dilarang, memenuhi apa yang diwajibkan kepada kita, dan mendekatkan diri kepada Alloh melalui tindakan-tindakan baik. [ rujukan? ] Baik Raghib al-Isfahani dan Sayyid Muhammad Husayn Tabataba'i berpendapat bahwa al-wasilah berarti mencapai tujuan tertentu melalui keinginan, kecenderungan dan kemauan, dan pada kenyataannya wasilah terhadap Tuhan berarti ketaatan pada jalan-Nya dengan pengetahuan dan ibadah melalui kepatuhan terhadap Syariah. Dapat disimpulkan dari ayat di atas bahwa syafaat (tawassul) hanya dengan "izin" Allah. Juga, praktik mencari syafaat dimulai pada masa nabi Islam Muhammad. Sebuah hadits yang sering dikutip untuk mendukung hal ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Utsman bin Hunaif mengenai seorang pria buta yang diyakini oleh umat Islam telah disembuhkan melalui proses tersebut.
Haditsnya adalah sebagai berikut:
Seorang buta datang kepada Rasulullah (saw) dan berkata: "Penglihatanku sedang terganggu, maka berdoalah kepada Allah untukku". Rasulullah (saw) berkata: "Pergilah berwudhu, shalat dua rakaat, lalu ucapkan: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadap-Mu melalui Nabiku Muhammad, Nabi yang penuh rahmat. Wahai Muhammad, aku memohon syafaat-Mu kepada Tuhanku agar penglihatanku kembali, agar penglihatanku menjadi sempurna. Wahai Allah, berikanlah syafaat kepadaku". Rasulullah SAW kemudian berkata: "Jika ada keperluan lain, lakukanlah hal yang sama."
— Dicatat oleh Ibnu Majah: 1385, Tirmizi, Abu Daud, Nasa'i, Tabrani dan lain-lain, dengan rangkaian suara perawi.
Berbagai kisah dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW menggambarkan dia menjadi perantara bagi para sahabatnya, sebagian besar memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa mereka ( Istighfar ). Misalnya, Aisyah meriwayatkan bahwa dia sering menyelinap diam-diam dari sisinya pada malam hari untuk pergi ke pemakaman Al-Baqi' untuk memohon ampunan Allah bagi orang yang telah meninggal. Demikian pula, istighfarnya disebutkan dalam Salat al-Janazah dan dijelaskan keampuhannya.
Contoh awal tawassul lainnya adalah gagasan untuk berpaling kepada Tuhan melalui Muhammad. Hal ini muncul dalam sebuah kisah tentang seorang buta yang meminta Muhammad untuk berdoa kepada Tuhan agar sembuh karena kebutaannya. Hadits ini dikutip dalam beberapa kumpulan hadis utama, seperti musnad Ahmad bin Hanbal :
Nabi memerintahkan orang buta itu untuk mengulang kata-kata ini: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadap-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang penuh rahmat, ya Muhammad! Dengan perantara-Mu aku menghadap Allah."
Di dalam Al Quran
Al-Quran menyatakan:
Dan jika sesungguhnya jika mereka datang kepadamu ketika mereka telah menganiaya diri mereka sendiri lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun telah memohonkan ampun bagi mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
— Al-Qur'an, Surah an-Nisa, 4:64
Ayat ini memunculkan pertanyaan apakah mediasi Muhammad masih mungkin dilakukan setelah kematiannya. Sejumlah ulama Islam, termasuk Al-Nawawi , Ibnu Katsir, dan Ibnu al-Atsir, dalam tafsirnya mengisahkan episode berikut, yang bertujuan untuk menunjukkan keefektifannya:
Seorang Badui dari padang pasir mengunjungi makam Nabi dan memberi salam kepada Nabi, menyapa beliau secara langsung seolah-olah beliau masih hidup. “Salam bagimu, Utusan Tuhan!” Kemudian beliau berkata, “Saya mendengar firman Tuhan ‘Jika, ketika mereka telah menganiaya diri mereka sendiri . . .,’ saya datang kepadamu untuk memohon ampun atas kesalahan-kesalahan saya, merindukan perantaraanmu kepada Tuhan kita!” Badui itu kemudian membacakan sebuah puisi untuk memuji Nabi dan pergi. Orang yang menyaksikan kisah itu mengatakan bahwa ia tertidur, dan dalam mimpi ia melihat Nabi berkata kepadanya, “Wahai 'Utbi, bergabunglah kembali dengan saudara kita si Badui dan umumkan kepadanya kabar baik bahwa Tuhan telah mengampuninya!”
Al-Quran juga menyatakan:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan (untuk mendekatkan diri kepada-Nya), dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.
— Al-Qur'an, Surat al-Maidah, 5:35
Ayat di atas menekankan empat hal:
- Keyakinan
- Ketakwaan ( Taqwa )
- Mencari cara pendekatan
- Berjuang demi Allah
Menurut ayat tersebut, hukum ketiga setelah iman kepada Tuhan dan takwa adalah "mencari jalan (untuk mendekati)-Nya (kehadiran dan kedekatan-Nya dan aksesibilitasnya)". Sebagian ulama menafsirkan wasilah (jalan menuju) yang disebutkan dalam ayat Al-Qur'an sebagai iman dan amal saleh, sementara sebagian lainnya, yang mayoritas, menjelaskan kata tersebut sebagai para nabi, orang-orang saleh dan kesayangan Allah. [ sumber tidak dapat dipercaya? ] Ayat tersebut juga menyingkapkan bahwa seseorang yang mencari jalan untuk mendekati Allah pada awalnya akan memiliki seorang mukmin dan muttaqien (orang yang takut kepada Allah). Jadi, wasilah tidak berarti menyekutukan Allah, tetapi justru menegaskan keesaan Allah, menurut pendapat Muhammad Tahir-ul-Qadri . [ sumber tidak dapat dipercaya? ]
perspektif syiah
Mencari Syafaat (tawassul), mirip dengan mazhab Sunni , diterima secara luas dan bahkan disarankan dalam Islam Syiah . Ulama Syiah merujuk pada ayat-ayat Al-Quran seperti 5:3 , 12:97 dan 12:98 dan membenarkan kebolehannya. Selama salat tawassul, Muslim Syiah menyebut nama-nama Muhammad dan Ahl al-Bayt dan menggunakan mereka sebagai perantara/pendoa syafaat mereka kepada Tuhan. Syiah selalu berdoa kepada dan hanya kepada Allah, tetapi seperti Muslim lainnya, mereka menerima tawassul sebagai sarana untuk mencari syafaat.
Umat Syiah menganggap bahwa tawassul melalui para nabi dan imam merupakan dalil wasilah yang agung, karena mereka telah mencapai derajat kemanusiaan yang tinggi dan setelah mati, mereka masih hidup dan diberkahi Allah. Jadi, tawassul merupakan salah satu sarana yang digunakan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Umat Syiah tidak menganggap tawassul sebagai bid'ah dan syirik . Menurut ajaran mereka, ketika tawassul diharamkan, manusia tidak menyadari bahwa sarana tersebut diciptakan oleh Allah dan khasiatnya diturunkan dari-Nya.
Umat Islam Syiah berziarah ke makam para Imam Syiah dan para Nabi Allah dan menganggapnya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar